GAIKINDO dan Masyarakat Otomotif Surakarta soal mobil ESEMKA, jika makelar RanMor bicara soal Industri Mobil Nasional

GAIKINDO (sebagai gabungan ‘makelar’ otomotif Nasional) menganggap sulit sekali mengembangkan Industri mobil Nasional, sikap skeptis yang realistis atau sekedar tak mau kehilangan penghasilan?

Mobil ESEMKA rupanya ditanggapi beragam, makelar mobil nasional yang menamakan dirinya GAIKINDO (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia), alih – alih memberikan menyambut dengan hangat untuk memberikan support dan memfasilitasi prestasi siswa ESEMKA ini untuk dikembangkan, mereka malah memberikan komentar yang skeptis dan berlaku seolah organisasi itu paling tahu soal bikin mobil, dan berhak untuk menentukan nasib industri mobil nasional Indonesia.

sementara mereka cuma pedagang saja sebenarnya, atau paling banter jadi tukang jahit Industri otomotif bangsa lainnya, nampak sekali mereka tidak punya keinginan untukmengembangkan Industri mobil Nasional di Indonesia, mereka sekedar ingin mengembangkan pasar bagi mobil yang mereka impor! celakanya mereka mengatakan selalu ini sebuah Industri, semerntara mereka bisanyta impor mobil, jd tukang jahit mobil, pake merk luar. Tak ubahnya Inlander Minder, tidak percaya diri, lebih suka jadi kacung malaysia dan bangga dengan prestasi – prestasi kecilnya.

Wakil Ketua Gaikindo Rizwan Alamsjah mengatakan Kita bisa membuat mobil. Tapi, untuk produksi massal atau pabrik mobil, itu beda lagi,”

Perakitan mobil seperti yang dilakukan para siswa ini dapat dijadikan ajang untuk belajar. Tetapi hasil karya tersebut tidak serta-merta dapat dijadikan sebuah barang yang diproduksi secara massal untuk dilepas ke pasar.

Kendaraan itu terlebih dulu harus lolos beberapa tahap pengujian standar kelayakan, kualitas, teknologi, serta riset pasar yang kompleks untuk dapat dijadikan sebagai produksi nasional. “Belum lagi soal riset dan pengembangan, semua standar produk harus sama,” ujarnya. “Dan itu sulit. Silakan buat mobil, tapi harus logis juga sebelum bicara produksi massal.”

Dari sisi spesifikasi, sudah banyak pula yang bermain di pasar mobil berkapasitas mesin 1.500 cc seperti Esemka. “Jadi, semuanya bertahap. Saat ini kita apresiasi karya dan kita dukung mereka, tetapi belum bicara soal produksi massal,” kata Rizwan.

Tentu saja kita semua tahu akan hal itu, itu hal yang sangat sederhana, Rizwan yang hanya pedagang mobil saja tahu, apalagi mereka yang nyata turun sebagai perisetnya, mereka tidak dungu untuk begitu saja melepas nay ke pasar, atau membiarkan itu mobil dipakai pejabat. Apalagi Teknokrat selevel M. Nuh yang jelas lebih pintar dari Rizwan ikut terlibat disana.

Ketua Masyarakat Otomotif Surakarta Ibnu Sahoer bahkan menyatakan, proses yang harus dilalui Kiat Esemka untuk menjadi mobil nasional masih panjang, terutama aspek kelayakan. “Ini berkaitan dengan keselamatan pengendara,” katanya. “Tanpa bermaksud menyepelekan, saya mempertanyakan sisi kelayakan dan faktor keselamatan mobil Esemka.”

Jika dilihat sepintas, Ibnu mengakui bodi Esemka tidak kalah oleh mobil-mobil keluaran Jepang atau Eropa. Namun soal kelayakan dikemudikan di jalan raya belum bisa dipastikan. Mobil tersebut harus diperiksa dalam hal kelayakan rem, kestabilan di jalan ketika berpapasan, handling, dan sebagainya. “Ada banyak faktor yang menentukan kelayakan sebuah kendaraan bisa diproduksi massal,” katanya.

Sama seperti Rizwan diatas, Ibnu bersikap seolah dirinya pernah terlibat dalam industri mobil yang sebenarnya, bukan sekedar bongkar pasang bengkelan atau malah cuma sebagai pedagang.

Tentu mereka semua tahu tentang apa yang Ibnu dan Rizwan ocehkan, dan mereka tentu lebih paham lagi karena bahkan industri mobil di China pun dimulai dari membuat bodi kotak seperti sabun diberi mesin roda dan setir, disaat Nissan sudah bikin Fairlady Z generasi ke 8, bahkan saat itu Hyundai sudah sukses di Eropa, tapi sikap positif rakyat dan pemerintah China sungguh membantu pengembangan industri otomotif di China, menjadikan mereka se raksasa Hyundai dan KIA

tapi apa lacur di Indonesia, bahkan masa depan industrinya lebih ditentukan oleh makelar, bukan pemerintah dan pelaku industrinya.

Semua tahu tidak mudah mengembangkan Industri Otomotif Nasional, tapi jelas bukan tidak mungkin, Malaysia bahkan berkembang dengan dukungan rakyat dan Pemerintahnya, tidak sok tahu dan justri membuat ini jadi nampak sulit, masih jauh dan menampakkan segunung kesulitan, yang juga jelas belum tentu benar, karena yang mengemukakan adalah orang yang tidak tahu banyak tentang membangun industri ini, selain bagaimana menjualnya.

Gaikindo kalau memang punya itikad baik untuk mengembangkan Industri Otomotif Indonesia, menjadi Industri yang sebenarnya, bukan sekedar jadi makelar dan tukang jahit, dan kalau memang tahu apa yang harusnya dilakukan untuk mewujudkan Industri Otomotif Nasional, lebih baik memberikan support, sekecilnya sekalipun, mungkin sekedar literatur atau informasi penting lainnya, – yang tentu bisa dia minta dari Tuannya – untuk diberikan kepada SMK yang sudah nyata karyanya itu, sehingga terjadi transformasi pengetahuan.

Atau memberikan informasi tentang kelemahan dan kekuatan setiap jenis mobil yang pernah mereka tangani, sehingga anak – anak SMK itu bisa membuat mobil yang lebih baik, atau apa saja, selain komentar sinis dan skeptis yang mematikan semangat.

Selain menunjukkan GAIKINDO kurang gizi, bisanya cuman jadi makelar, tukang jahit dan pesuruh Industri otomotif dunia, juga menunjukkan organisasi yang bernama Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia ini tidak tahu apa – apa soal Industri Kendaraan Bermotor di Indonesia, apakah Rizwan tahu di Indonesia pernah ada truk yang namanya PERKASA?

Wicaksono J

sumber: korantempo.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s