Industri riil Indonesia, Pondasi Ekonomi yang Tidak Dirawat dan Ternyata Digerogoti Sendiri

Indonesia (entah disadari entah tidak) terlena, bahkan mungkin  ter (me) tipu, oleh angka pertumbuhan ekonomi yang dibilang lebih dari 6,5 persen ! angka yang baik bahkan spektakuler, apalagi jika dibandingkan dengan fakta – fakta kemampuan keekonomian masyarakat, masyarakat umum yang jumlahanya sangat besar, karena mereka lah sebagian besar penduduk negara ini

Hal ini salah satunya karena sektor-sektor yang menopangnya. terutama Sektor riil,  industri, yang semestinya dikembangkan karena banyak menyerap tenaga kerja, justru kurang sekali diperhatikan. Pemerintah tidak juga serius memberikan solusi atau dukungan untuk mereduksi berbagai hambatan di sektor ini.

Kurun tujuh tahun terakhir, kontribusi industri terhadap pertumbuhan ekonomi terus menurun. Hingga triwulan ketiga 2011, kontribusi industri pengolahan hanya 23,9 %. Bandingkan pada 2004, kontribus sektor ini ada diangka 28,1 %, tertinggi dalam sejarah Republik Indonesia.

Hal ini seharusnya disadari oleh pemerintah sebagai masalah yang penting dan serius, Untuk bisa menjadi Negara dengan kemajuan Industri yang mumpuni ke depannya, kontribusi dari sektor ini menopang sekurang-kurangnya 40 % pertumbuhan perekonomian .

Kehancuran Industri di Indonesia terlihat jelas, peranan pemerintah, sengaja atau tidak, dalam penghancuran dunia Industri Indonesia juga terlihat jelas, dan anehnya Pemerintah tidak merasa malu, malahan mencari – cari dalih pembenaran atas peranan mereka dalam melambatkan gerak Industri dalam negerinya sendiri.

Contoh sederhanya yang mungkin jarang diketahui secara umum, industri sepatu, omzet perdagangan sepatu dalam negeri mencapai Rp 27 triliun per tahun. Tapi, cilakanya, 60 % dari nilai tersebut dinikmati Industri Sepatu Cina. Industri sepatu di Negara Cina, bukan Pabrik sepatu punyanya Cina di Tangerang atau Sidoarjo sana.

Begitu pula dalam soal tekstil. Sepanjang 2006-2008, banyak perusahaan tekstil kita yang tutup akibat kalah bersaing dengan produk impor. Terutama dari Cina yang regulasi Industrinya dari hulu ke hilir sangat ditopang oleh Pemerintahnya,

bagaimana mungkin Industri textil Indonesia bisa bersaing dengan produk – produk dari Negara Cina, jika regulasi Pemerintah Indonesia dan Infrastruktur yang disediakannya serta  tingkah serikat pekerja, yang ditunggangi kepentingan politik partai, membuat harga satu set bahan kain Produksi Industri sandang Indonesia sama dengan harga 2 – 3 potong baju buatan Cina?

Dan inipun terjadi dan selalu terjadi hampir di seluruh bagian Industri di Indonesia, belum lagi aturan pajak dan birokrasi, semua membuat Industri Riil di Indonesia menjadi Industri berbiaya tinggi, bahkan sangat tinggi dan pada akhirnya tidak mungkin lagi memiliki daya saing bahkan di pasar domestiknya sendiri.

Hal terbaru adalah skandal pembelian pesawat MA 60 buatan Cina yang jelas lebih jelek dan lebih mahal dari CN 235 buatan Industri Dirgantara Indonesia (apalagi ditambah fee makelar ), suatu pengkhianatan nyata yang dilakukan Pemerintah, dan punggawa – punggawa negara yang jadi makelarnya, mereka lebih senang jadi makelar Industri Cina dan berpikir serius tentang itu daripada menggunakan energinya untuk memajukan kehidupan Industri Bangsanya sendiri

Dibanding Cina, Indonesia memang tertinggal jauh. Dalam daftar yang dirilis United Nations Industrial Development Organization (UNIDO), Cina berada di peringkat pertama, sedangkan Indonesia di ranking ke-38.

Hal ini membuat Indonesia, dan Industri Riilnya, berjalan mundur, bisa dibilang Indonesia mengalami proses deindustrialisasi. Dan hal ini tentu pada akhirnya akan membuat pelaku Industri yang peranannya penting karena menciptakan lapangan kerja dan membuat produktivitas meningkat, beralih menjadi pedagang , tidak perlu banyak orang dan sekedar berlomba mencipatakan model konsumerisme yang  jelas sangat kontraproduktif. Industriwan beralih menjadi pedagang karena banyaknya kendala di sektor industri.

Ekonomi biaya tinggi karena Birokrasi yang jelas Korup, Infrastruktur yang acak adul dan tidak berkembang (ciri negara kurang gizi) serta REGULASI INDUSTRI yang tidak pernah jelas, baik atuarannya hingga model penegakannya sehingga terjadi politasasi Industri dan exploitasi politis terhadap SDM, berkedok Hak Asasi Manusia yang di ngejawantah kan secara serampangan berdasarkan standar hedon ini membuat keder para pelaku Industri di Indonesia makin hari makin keder, kecut dan minder

Margin keuntungan kalangan industri selalu tergerus oleh ekonomi biaya tinggi, dari proses perizinan sampai kegiatan pengapalan. Korupsi dan pungutan liar makin menjadi di instansi pemerintah yang berhubungan dengan pengusaha. Semua ini membuat hasil industri kita sulit bersaing dengan produk impor.

Perekonomian kita berkembang lantaran ditopang antara lain oleh sektor primer, seperti pertambangan, perkebunan, dan kehutanan, yang tentu pada saatnya, akan habis, baik cadangan lalu produksinya. Keterbatasan lahan juga akan dan sudah serta selalu jadi masalah. yang barusan meledak adalah kasus Mesuji, lalu disusul oleh kasus – kasus serupa dibanyak tempat berbeda,

Juga Pertumbuhan Ekonomi Indonesia ini disandarkan perkembangannya dari sektor yang terbukti sangat rapuh: Keuangan dan Investasi Pasar Modal, serta Surat Berharga (surat Hutang), suatu indikator perkembangan yang terbukti (terutama beberapa tahun belakangan ini) sangat rapuh dan Rentan, apalagi jika dilihat bahwa sebagian besar pemilik uang yang diputar disana berasal dari negara lain. Arus uang yang masuk ke Indonesia di sektor tersebut semata – mata karena longgarnya system moneter Indonesia, dan itu menguntungkan sekali untuk mereka, para Investor asing. Ini tentu berpotensi besar membuat bubble ekonomi bagi system moneter Indonesia sendiri dan secara umum bagi seluruh sendi Kehidupan Indonesia.Arus Uang itu tidak masuk ke Indonesia karena kinerja Industri dalam Republik  yang baik dan berkembang, tetapi karena sumberdaya alam yang nanti akan habis itu, dan karena di Indonesia uang berkembang lebih subur daripada Industri dan manufacture.

Tentu sudah sama – sama diketahui, Investor pinjam uang di Perbankan Jepang kena bunga, gampangnya, 0.25% p.a, jika uang itu di Rupiahkan lalu di dipositokan di Indonesia dengan bunga deposito, bank paling pelit, berani berikan 4,5% p.a, gampangnya saja, dia sudah untung bruto 4,25% p.a, amboi…, belum lagi surat hutang dan obligasi negara, enak sekali jika ada akses dari perbank an asing, pinjam uang, dengan bunga wajar di negara tersebut, lalu biarkan mekanisme keuangan Indonesia yang mencarikan keuntungannya, mari ongkang – ongkang kaki saja sambil sesekali belanja

jika faktanya Industri riil dalam negeri ini tidak berkembang, kemana para Bankir itu mencari uang guna membayar bunga kepada para Nasabah besar dari modal asing tadi? Karena jelas sekali pertumbuhan modal dan pertumbuhan pengguna modal sangat njomplang dan terus bertambah tidak seimbang dengan laju defisit sangat signifikan.

Bank Indonesia sebetulnya sudah memulainya dengan menurunkan suku bunga acuan (BI Rate) justru ketika banyak negara melakukan yang sebaliknya. Suku bunga saat ini adalah yang terendah sejak 2005. Sayangnya, masih banyak pihak di kalangan perbankan yang enggan menurunkan suku bunga pinjaman. Pelaku usaha masih kesulitan mendapatkan biaya dana yang murah, dan konsumen juga tidak mendapat insentif untuk berbelanja. Akibatnya, secara agregat sulit bagi sektor industri meningkatkan kapasitas produksinya.

Pemerintah mesti pula membereskan pekerjaan rumah yang sudah bertahun-tahun ditelantarkan, yakni infrastruktur yang buruk dan pemberantasan korupsi yang kian melemah. Predikat negara layak investasi yang kini diraih bisa menjadi sia-sia jika masalah ini tak segera diatasi.

Menciptakan kondisi yang nyaman bagi industri merupakan keharusan jika kita menginginkan perekonomian yang jauh lebih sehat. Dalam jangka panjang, penguatan industri juga akan mendorong pertumbuhan lebih tinggi dari yang sekarang, sekaligus berkelanjutan.

Pendek kata, sektor industri riil harus diperbaiki, disupport habis – habisan karena disanalah sokoguru daya tahan perekonomian berada, entah itu Industri besar berbasis teknologi, industri besar berbasis bahan tambang, Industri Pertanian berbasis kerakyatan, hingga industri kecil dan menengah,
mereka berperan penting memutar roda perekonomian dan membuat setiap penduduk di negeri ini produktif secara formal, dan pada akhirnya akan sangat mengurangi beban negara, sehingga negara bisa lebih fokus mencari keuntungan dan uang dari setiap potensi yang ada di negara ini, untuk membuat rakyatnya lebih kaya dan lebih sejahtera lagi.

Sekali lagi ini semua bergantung kepada itikad dan niatan Pemerintah dan juga seluruh masyarakat Negara Kesatuan Republik Indonesia,

Industri riil disadari atau tidak disukai atau tidak adalah fundamental keberadaannya, untuk negara seperti Indonesia, Industri riil berbasiskan apapun juga adalah penting, dan merukan landasan berpijak perekonomian bangsa dan negara ini ke depannya.

Konyol sekali terasa jika pd akhirnya Pengusaha Indonesia terpaksa jd pemain tengah, tidak apa sebenarnya, jika jangkauan permainan mereka sudah di pasar Internasional, bukan hanya bermain di tataran nasional, menjejali Negara ini dengan sampah yang mereka namakan ‘barang ex -Import’.

Bagus sekali Pemerintah sekarang rajin berkampanye untuk bangga dan selalu memakai produk dalam Negeri, tapi jika tetap saja Pemerintah juga memakelari dan memfasilitasi produk luar Negeri untuk masuk ke Dalam Negeri, maka kehancuran fundamental Ekonomi Negara akan terjadi lagi, kali ini rasanya karena salah Pemerintah sendiri, jadi jangan lagi menyalahkan spekulan luar, karena kita sendiri yang nyatanya memberikan mereka ruang gerak yang bebas dan leluasa …

Semoga segara disadari oleh Pemerintah, dan segera dilakukan deregulasi yang berpihak kepada Industri Nasional

Wicaksono J – December 24, 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s