Westerling activiteiten in Mesuji

Pemantulan kembali kebiadaban zaman belanda di Indonesia, konflik antara perusahaan dan masyarakat keterlibatan aparat di bawah birokrasi pemerintah, dan  tak lupa pelibatan para preman yang (tentunya) dipersenjatai, -mereka menamakan kumpulan bandit ini sebagai ‘Pam Swakarsa’-, diupayakan penyelesaiannya dengan jalan gampang saja: bantai

dan ini kejadian nyata, di Tahun 2009 – 2010 masehi, bukan di film sejarah atau cuplikan film dokumenter tentang pemberontakan PKI,

dan tidak ada yang (mengakui kalau) tahu, apalagi mengambil tindakan yang perlu, dikalangan penanggung jawab keamanan negara, hingga akhirnya kemarin mengadu ke Komisi Hukum Dewan Perwakilan Rakyat di Jakarta berkaitan dengan kasus pelanggaran hak asasi manusia dan kekerasan yang mereka alami. Mereka meminta Komisi Hukum mendesak Kapolri tegas mengusut pembantaian 30 warga yang terjadi sepanjang 2009 hingga 2010.

Kuasa hukum masyarakat Mesuji, Bob Hasan, menyatakan kekerasan di Mesuji berawal dari perluasan lahan oleh sejumlah perusahaan di Mesuji. Salah satunya adalah PT Silva Inhutani. Saat melakukan perluasan, perusahaan diduga mulai menyerobot lahan warga untuk ditanami kelapa sawit dan karet. “Warga yang menolak justru mendapat penganiayaan, bahkan pembantaian,” kata Bob di depan anggota Dewan.

sepanjang 2009 hingga 2011, tercatat ada 30 warga yang tewas, beberapa di antaranya dibantai, dan 120 lebih warga ditahan. Sebagian yang ditahan memang sudah dibebaskan.

Perincian korban tewas: 7 di Sumatera Selatan, selebihnya di Lampung namun hingga kini masih belum ada tindakan tegas dari kepolisian daerah terkait hal ini, wakil masyarakat menunjukkan video berisi rekaman yang menggambarkan kekejaman itu. Misalnya, ada gambar leher salah seorang warga disembelih hingga tercabik-cabik. Ada juga jasad pemuda tak berkepala yang digantung di tempat umum. Juga video berisi rekaman perusakan rumah penduduk dan rumah ibadah, walau belakangan diakui gambar dalam video tersebut dari kejadian lain di wilayah sumatera selatan.

Mereka bentuk Pam Swakarsa untuk membenturkan rakyat dengan rakyat tapi di belakangnya aparat. Ketika warga mengadu ke aparat tidak dilayani. Intimidasi dari oknum aparat dan pihak perusahaan sangat masif di sana,” kata Saurip. Dalam aksi penggusuran itu, setidaknya ada 30 korban tewas dan ratusan warga terluka sejak tahun 2009 sampai 2011.

salah satu penduduk yang juga menjadi korban dari Desa Simpang Pematang, Mesuji, Mathias Nugroho, meminta kepada para anggota Komisi Hukum untuk mendesak Kepolisian memberi perlindungan kepada warga. Hal ini karena, hingga saat ini warga terus dihantui rasa takut.

Mathias juga menceritakan, setidaknya ada 120 warga yang ditahan Kepolisian. Salah satunya, ayahnya, Yudas, dengan sangkaan menduduki lahan tanpa izin.

“Bapak saya ditahan sudah tujuh bulan. Sudah divonis satu tahun di pengadilan. Yang lain ada yang masih ditahan. Ada juga yang sudah bebas,” kata Mathias.

Selain terjadi di Meisuji, penggusuran dengan pembunuhan keji ini juga terjadi di daerah Tulang Bawang Induk dan Tulang Bawang Barat.

Menanggapi hal ini, anggota komisi Hukum dari Fraksi Golkar Bambang Soesatyo yang saat itu memimpin pertemuan dengan warga Lampung mengatakan, akan segera menindaklanjuti kasus ini. “Telah tejadi perbuatan biadab oleh PT Silva Inhutani dan kami, Komisi 3, akan melakukan langkah-langkah selanjutnya,”

Sementara, Markas Besar Polri belum bisa mengkonfirmasi soal peristiwa ini. Polri belum bisa memberikan keterangan adanya tuduhan serius itu.

“Kami belum tahu. Kami akan cek kebenarannya terlebih dahulu,” kata Kepala Divisi Humas Mabe Polri, Inspektur Jenderal Polisi Saud Usman Nasution hari Rabu.

Selain dari keprihatinan akan buas dan tidak beradabnya kejadian itu, ini juga suatu kejanggalan dan fakta tidak bernurani dan tidak bermoralnya aparat birokrasi dan keamanan yang dipunya Indonesia, kalau mereka tidak mau dibilang bodoh, tolol dan lain sebagainya,

Begitu juga RT, RW, Kepala Desa hingga Camat, Bupati dan Gubernur apa saja kerja mereka

bagaimana mungkin terjadi, di zaman canggih seperti ini terjadi kebiadaban seperti di zaman westerling di wilayahnya, di daerah seperti Mesuji, berapa lama diperlukan Kapolsek untuk tahu ada kejadian biadab di wilayah kekuasaannya ? kecuali seluruh personel di polsek tersebut kerjanya mabuk saja setiap saatnya, lalu kenapa tidak melapor ke atasannya? ada imbalan? imbisil atau memang penakut yang kelewatan pengecutnya.

Hal ini mesti segera selesai dalam arti yan sebenarnya, kalau tidak tentulah tidak heran lagi kenapa negara tentannga macam malaysia, singapore dan bahkan vietnam dan burma, tidak hormat lagi secara praktek (bukan diplomasi) terhadap Indonesia, karena Bangsa ini telah menjadi Negeri Omong Kosong, yang dipimpin para Pembohong, Pencuri dan Pengecut dalam praktek, dan diisi jiwanya oleh pemuda generasi mlumah yang siap digagahi kapan saja oleh para kolonialis zaman baru yang tetap pakai cara lama sebenarnya.

Wicaksono J,

VivaNews.com, Koran Tempo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s