Bapak Presiden itu kan masalah sederhana

picture by aryashari.blogspot.com

pic by aryashari blog

Keluhan Pak Presiden, kembali terdengar, kali ini soal beberapa komponen kabinet nya yg kurang responsive menyikapi dan melaporkan permasalahan atau bencana yang terjadi

Pak Presiden bahkan mengaku mendengar peristiwa jembatan KUKAR dari SMS dan Media, bukan dari para punggawa yang digajinya dengan mahal itu

Sebenarnya, sekali lagi, sebenarnya, apa yang Pak Presiden keluhkan itu bukanlah konsumsi Masyarakat, masyarakat dari Negara yang katanya di Pimpin oleh Pak Presiden yang suka mengeluh itu,

Bukankah itu kewajiban yang melekat kepada hak prerogative yang dipunyainya? Lagipula bukankah seharusnya soal responsivitas yang dikeluhkan Pak Presiden itu adalah hal yang remeh saja, yang bisa diselesaikan tanpa tetangga sebelah jadi tahu, bagaimana mungkin masalah internal yamg remeh temeh itu diketahui oleh khalayak regional, dan international melalui media
hal yang sebenarnya menunjukkan kelemahan birokrasi dalam kabinet, sehingga menteri tidak tahu bahwa untuk suatu kejadian dengan tingkat eskalasi tertentu dia harus serta merta kasih lapor sama Boss,
Kelemahan birokrasi ditingkat ini tentu akan terbaca sebagai lemahnya kepemimpinan sang Pemimpin, bahkan pembantu dekatnya tidak mengaggap penting existensinya, dalam istilah Suroboyo : pupuk bawang, ada dan bersuara Ok, tidak ada ya tidak apa, mungkin Pak Presiden merasa diperlakukan Pupuk Bawang dalam ajang main mainan mengelola negara ini, lalu Ngambeg dan mengeluh seperti bocah

Atau dalam perspektif yang lebih jelek lagi, karena akan nampak sosok yang lebih lembek lagi, karena kecut, minder dan bingung serta menjadi tidak waras dalam menghadapi masalah, adalah menjadikan keluhan itu sebagai elakan dalam menghadapi masalah masalah yang terjadi, menjadikan para punggawa kambing hitam, padahal tentu tidak ada hubungannya sama sekali

Baiklah Pak Presiden, organisasi Pembantu Bapak Presiden berikut isinya tentu adalah urusan Bapak Presiden sendiri dalam mengaturnya, itulah sebabnya kepada Bapak diberikan hak Prerogative, hak yang bolehkan Bapak untuk atur dan tentukan bagaimana kinerja dan bagaimana mereka harusnya bekerja untuk Bapak, untuk membuat para pembantu Bapak itu benar – benar bekerja membantu Bapak dalam menjalankan pemerintahan di Indonesia ini

Tegur, marahi dan caci maki serta intimidasi saja mereka kalau dianggap perlu, biar mereka kerja benar sesuai dengan standar yang Bapak Presiden harapkan,
masa tidak berani, Bapak kan Presiden yang sah dan berkuasa Penuh, sehat jiwa dan raga

Lakukan saja apa yang Bapak anggap perlu untuk dilakukan,
Jangan khawatirkan apapun,

toh Warga negara Indonesia disini sudah biasa mengurus dirinya sendiri, walaupun katanya mereka punya pemerintah, punya priyagung, punya orang -orang pinter yang bertugas mensejahterakan mereka para rakyat, melindungi dan mengayomi warga negara, karenanya rakyat mesti bayar pajak, toh pada akhirnya rakyat tetap harus mengurus dirinya sendiri, menghadapi masalahnya sendiri

membangun usaha sendiri, bersilat berkelit mensiasati banjir impor barang cina untuk tetap bertahan hidup dan tetap bisa bayar pajak, sehingga para para priyagung itu tetap gajian besar dan hidup enak,
sendirian saja, dilakukan rakyat sendiri tanpa uluran tangan, perhatian, apalagi bantuan nyata pemerintah yang manapun juga, kecuali mungkin bantuan berupa jargon – jargon penyemangat, dengan sedikit tipuan kamera khas produser sinetron yang terbiasa menampilkan keganjenan, sehingga nampak sang priyagung menteri begitu santun dan penuh welas asih memberi banyak bantuan dan solusi

Sulit Rasanya membayangkan Bapak Presiden Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak tahu masalah – masalah pembantunya itu semua,

Tidak tahu bahwa warga negaranya selalu menyelesaikan permasalahan mereka sendiri, sementara para Pembantu Bapak Presiden Sibuk untuk nampak sibuk, dengan obral obrol kesana kemari, menerima undangan wawancara disana dan disini, bukan berkoordinasi menyelesaikan permasalahan – permasalahan warga Negaranya,

Dan kalau Bapak sudah tahu, bolehkah kami warga negara bapak ini, minta tolong?
Sekedar Pertolongan untuk tidak lagi menambah beban pikiran rakyat yg sudah berat ini dengan ditumpahi keluh kesah yang tidak perlu, tidak mudah jadi Presiden memang, tapi banyak hal yg lebih penting juga yang harus kami pikirkan dan lakukan, jadi tidak usahlah kami tahu keluhan Bapak yg sederhana saja sebetulnya itu, sebab mengeluh kepada kami tidak akan membantu Bapak dan Jelas Tidak Bermanfaat untuk Kami

Surabaya – December 2011 Wicaksono J

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s