Medali Emas SEA Games, keampuhan jurus Lari Berputar Tanpa Bayangan Rasa Malu

Masih ingat berita tentang Atlet peraih medali Emas SEA GAmes ke 26 yang lari terbirit keliling arena menghindari serangan pesilat Thailand di babak final?

Dian Kristanto, sang Pesilat yang pakai jurus langkah seribu untuk menang ini menyatakan dirinya bukan Pengecut, dia sengaja melakukan jurus pamungkasnya itu untuk mempertahankan keunggulan nilai yang sudah dicapainya terlebih dahulu, sedangkan kakinya sudah cidera, dan bisa berakibat fatal jika sampai serangan lawan menjangkau cideranya itu, seperti diakui sang Jagoan indonesia ini sendiri, pesilat Negeri Gajah Putih itu sengaja mengincar dan terus berusaha menyerang cidera di lututnya itu, dan berkelit dalam silat lidahnya bahawa dia berusaha membanggakan negara dengan medali emasnya itu

Hal yang lumrah sebetulnya, bahkan wajib, dalam sebuah pertarungan, lawan akan selalu memanfaatkan kelemahan lawan untuk membuatnya menderita dan menggunakan kelemahan lawannya untuk meraih kemenangan, itu sudah menjadi taktik dasar beladiri manapun juga dan pertarungan dimanapun juga,

betapapun Jagoan jurus Lari Tanpa Bayangan Rasa Malu ini harusnya ingat, lebih dari medali dan kemenangan yang diraih dalam suatu arena pertarungan, nilai kejujuran dan sportifitas adalah lebih tinggi daripada Medali, apalagi nilai – nilai kepengecutan, tentunya Jagoan Sejati tahu, lebih baik patah tulang sekalian, atau jujur dan sportif mengakui  keunggulan lawan jika cidera tak memungkinkan untuk terus bertanding, atau setidaknya mengakui dengan sportif telah melakukan kesalahan memalukan dengan mengeluarkan jurus terlarang: Lari Tanpa Bayangan Rasa Malu,

lalu minta maaf, setidaknya tidak membuat Pencak Silat sebagai budaya seni Bela Diri asli dan Khas Indonesia dianggap membolehkan pengikutnya bertindak tidak sportif dan pengecut, untuk sekedar pertandingan di arena untuk sebuah medali dan piala

berikut cuplikan wawancara Sang Jagoan Jurus Lari Tanpa Bayangan Rasa Malu Dian Kristanto dengan Viva News:

Di rekaman video, Anda terlihat menghindar dari pertarungan. Sebetulnya apa yang terjadi saat itu?

Saya sudah unggul atas lawan saya (Anothai Choopeng/Thailand) hingga di babak kedua. Babak pertama, saya bahkan bisa menang jauh dari lawan. Saya berhasil membanting lawan hingga tiga kali dia tersungkur. Poin saya banyak dari membanting itu. Pengalaman saya di beberapa pertandingan sebelumnya, setelah lawan kalah mental, akan lebih mudah mencari poin dari guntingan dan sapuan.

Lawan kemudian memanfaatkan kondisi kaki saya yang cedera. Dia bisa menyusul poin hingga menjelang akhir pertandingan. Kaki kanan saya ini sebetulnya tidak memungkinkan saya tampil di final. Pada saat babak kedua, saya berhasil membanting lawan hingga dua kali. Ternyata, pada bantingan yang kedua, tubuh lawan malah mengenai lutut kaki kanan saya. Saya sangat kesakitan saat itu. Kaki kanan saya langsung tidak bisa lagi digerakkan.

Anda mengatakan lutut kanan anda cedera. Sebetulnya seberapa parah cederanya saat itu?

Kata dokter, ada empat urat pengikat di dalam tempurung lutut. Ada ACL, PCL, Miniscus, serta Tendon. Tiga dari empat pengikat milik saya ternyata sudah putus. Saya hanya punya tendon di dalam tempurung lutut saya. Memang sebelum ini saya sempat dioperasi untuk itu. Nah, pada pertandingan final, kecelakaan itu terjadi lagi. Saya tidak bisa berbuat banyak karena lawan-lawan saya memang sengaja mengincar lutut saya.

Dua minggu sebelum SEA Games kaki saya cedera parah. Saya ikut tim SEA Games sebetulnya sempat ragu. Tapi saya paksakan karena saya yakin Tuhan pasti memberikan kekuatan jika kita mau usaha maksimal. Setelah lolos babak penyisihan, menang lawan Myanmar, kondisi kaki saya makin parah. Tapi saya paksakan juga main di semi final.

Di semi final alhamdulillah saya menang lawan Vietnam dan tembus ke final. Sebetulnya ini lawan terberat. Saya sempat bertemu dia di final kejuaraan dunia tahun lalu (2010). Saya menang saat itu dan merebut gelar juara dunia kelas 45-50 kg putra. Di SEA Games ini, meski kaki kanan saya tidak maksimal, dengan modal kepercayaan diri pernah mengalahkan dia itu, akhirnya saya menang dan masuk final.

Bagaimana ceritanya Anda terlihat lari dari lawan dan sempat dituding berlindung di belakang wasit? Anda dituduh pengecut, bagaimana tanggapan Anda? 

Sebetulnya itu bukan mau lari atau menghindari pertarungan. Saya bukan pengecut. Saya datang ke SEA Games ini untuk membela Indonesia. Saya bukan atlet yang baru tampil di kejuaraan besar. Saya pernah juara dunia. Bukan cuma satu atau dua kali main silat. Saya lolos ke final tentu saya sudah main bagus sebelumnya.

Ini soal pertanggungjawaban saya terhadap negara. Juara itu ditentukan bukan dari pujian mereka di internet. Tapi lewat raihan emas. Dan di partai puncak, saya tidak mau menyia-nyiakan. Saya sudah unggul sampai babak kedua. Risikonya kaki kanan saya makin parah saat itu. Memasuki babak ketiga, sejujurnya saya sudah tidak sanggup bertanding.

Pada saat istirahat, saya hampir menangis menahan sakit. Lawan memang sengaja mengincar ini (sambil menunjukan lutut kanannya yang penuh bekas jahitan). Saat itu saya berpikir, jika satu tendangan lagi saya terima, pasti saya cacat seumur hidup tidak bisa jalan. Saya sempat bilang ke pelatih, saya tidak sanggup. Tolong lempar handuk saja. Saya menyerah.

Lalu bagaimana ceritanya bisa kembali tampil di babak ketiga?

Saat itu semuanya seolah berjalan sangat cepat. Saya minta pelatih untuk menyerah, tapi sudah bunyi ‘knong’ artinya saya sudah dipanggil. Saya tanya pelatih, Pak Roni Saifullah, dan Pak Karyono, mereka akhirnya meyakinkan saya untuk bisa kembali main. Kamu sudah unggul, waktunya tinggal sedikit lagi untuk mempertahankan kemenangan (Dian menirukan ucapan pelatihnya).

Pelatih menyuruh saya tetap fokus agar tidak jatuh atau dikurangi poin. Mereka sebetulnya tahu saya sudah tidak bisa apa-apa lagi di menit-menit akhir itu. Untuk jalan saja saya sangat kesakitan. Mereka meyakinkan saya terus, sisa waktu pertandingan ini, asalkan kamu bisa mempertahankan, Indonesia juara. Perjuangan kamu sejauh ini tidak sia-sia.

Saya harus atur strategi dengan keadaan seperti ini. Tapi sekali lagi, bukan main curang. Saya harus tetap fokus agar lawan tidak tambah angka. Saya sudah berusaha untuk menyerang lagi. Setidaknya, ini strategi agar tidak diserang duluan. Saya beri lawan dua kali sapuan, dua kali guntingan. Tapi memang tidak maksimal. Tidak kena. Celakanya, waktu kurang dua menit lagi, kaki saya tidak bisa diajak berdiri.

Dalam Pencak Silat, jika sapuan, atau guntingan gagal untuk yang ketiga, skor akan dikurangi. Saya sudah dua kali melakukan itu. Saya tidak mungkin kembali mencoba. Bisa-bisa nilai saya dikurangi. Waktunya kurang dari 15 detik, saya benar-benar harus putar otak bagaimana strateginya untuk menang.

Saya melihat saat itu juri 1 memberikan nilai 30-31 untuk saya. Begitu juga juri 2 yang memberikan nilai 28-29. Saya tidak melihat juri lain. Tapi saya sempat melihat juri 4 juga memberi nilai 18-19 untuk saya. Coba anda bayangkan, dengan perolehan angka tipis seperti itu, kalau saya bikin kesalahan satu kali saja, perjuangan saya habis.

Semoga Tidak ditiru, Jagoan bikin Malu dan Pelatihnya yang tega membuat muridnya untuk bertindak memalukan

Wicaksono J, 29/11/2011 – mengutip berita VIVAnews dan Sumber Lain

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s