Ricuh Bellagio: Kebutuhan gadget berbasis konsumerisme ganjen dan kegemaran pamer

Blackberry, di Indonesia, menjadi kebutuhan pokok pemenuhan hasrat kepemilikan, mode, lifestyle, entah optimal entah tidak, entah bisa produktif atau sekedar buat gemagah saja, siapa yang perduli? yang penting pakai BB keluaran terbaru, Blackberry  bukan lagi  gadget canggih untuk membantu kinerja sehari – hari bagi pemakainya, tapi jd sekedar lambang superioritas, gengsi dan perasaan lebih unggul, makanya dalam setiap polah gerak dan kegiatannya, terutama yang dilakukan di ruang publik, bayangkan jika BB mu ketinggalan ! atau barusan di jual, pasti rasa minder seketika menguasai, salah tingkah dan tidak nyaman melengkapi buruknya hari itu..

hingga di suatu hari, di hari RIM, dalam promo produk barunya nya dan katanya untuk berterima kasih kepada masyarakat Indonesia yang selalu menerima setiap produknya tanpa banyak cing cong dan pertanyaan terjadilah hal ini:

90 orang pingsan dan mengalami luka ringan serta tiga orang dilarikan ke Rumah Sakit Pertamina dan RS Jakarta akibat patah tulang dan Penjualan BlackBerry Bellagio separuh harga di Pacific Place, di kawasan Sudirman Central Business District, Jakarta Selatan, kemarin dihentikan aparat kepolisian karena ricuh.

Antri blackberry diskon seperti kejadian penjualan sembako murah untuk masyarakat miskin: ricuh dan bikin lorban berjatuhan

dan operasi pasar gadget canggih oleh RIM pun dihentikan,

Polisi melakukan penyelidikan terkait insiden ricuh BlackBerry diskon di Mal Pacific Place, di kawasan SCBD, Sudirman. Belum ada tersangka, semua saksi masih didalami keterangannya.

“Sudah ada 8 orang yang diperiksa, dari EO, satpam, dan panitia, juga pihak BlackBerry. Kita masih gali informasi,” jelas Kapolres Jaksel Kombes Pol Imam Sugianto saat dihubungi detikcom, Sabtu (26/11/2011).

Imam menegaskan, polisi masih menyelidiki pemicu ricuhnya antrean BlackBerry itu. “Jadi belum ada tersangka, semua masih didalami. Pemicunya masih didalami,” tambahnya.

Polisi fokus pada dugaan kelalaian dalam antrean BlackBerry diskon yang menyebabkan 90 orang pingsan ini. “Dari mana pemicunya, ada kelalaian atau enggak masih diselidiki,” tegasnya.

Nah, enggak yang miskin enggak yang punya, kelas bawah dan kelas menengah atau kelas maksa, terbukti sangat mudah menjadi beringas dan susah diatur, tidak punya kemampuan mengatur dirinya sendiri, untuk hal – hal yang tidak essensial dan jelas – jelas tidak banyak gunanya buat mereka

Wicaksono J, Detik News, Koran Tempo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s