Selamat Tahun Baru Hijriyah, 1 Muharram 1433 H

Selamat Tahun Baru Hijriyah, 1 Muharram 1433 H 

Semoga di Tahun yang baru saja dimasuki ini, Allah SWT kita selalu Diberkahi, diberikan rezeki dan perlindungan, semoga Allah Swt senantiasa memberikan petunjuk dan ilmu, sehingga derajat kita senentiasa tinggi dan ditinggikan

Banyak kegiatan yang dilakukan umat Islam dalam menyambut datangnya Tahun Baru Hijriyah ini, sekedar mengucapkan selamat, pengajian, selamatan, berpuasa,  maupun  saling berbagi informasi apa saja berkaitan dengan datangnya Tahun baru Hijriyah melalui jejaring fb, twitter dan tentunya Blackberry messanger broadcast,

secara traditional bahkan dalam budaya Jawa, dan beberapa budaya etnis lain di nusantara ini bentuk perayaan Tahun baru ini disikapi dengan lebih unik lagi, lebih magis dan kental nuansa klenik, sekilas nampak seperti hasil asimilasi sempurna dengan budaya setempat dan kalender adat yang ada, entah yang ada lebih dulu atau belakangan, dengan sebuah bentuk dogma dan ajaran Islam yang datang  utamanya, melalui jalur perdagangan itu.

Terutama di Indonesia, sepertinya setiap perayaan – perayaan hari – hari yang dianggap penting dalam agama Islam,  cenderung disikapi dengan lebih meriah dan berlebihan. Dalam hal penyikapan secara Adat budaya lokal yang merupakan hasil dari asimilasi, mungkin justru nampak lebih wajar untuk hadir dalam bentuk peringatan yang khas, dan nampak jelas dasar dan alasan dilakukannya ritual tersebut, yaitu sekedar dilakukan berdasarkan adat kebiasaan kuno yang tetap mereka pegang teguh dalam tataran keyakinan. Terlepas benar atau salahnya, dan resiko sosial yang ditimbulkannya karena tetap dilakukan di zaman sekarang cukup berat juga: dicibir dan dihina, dibilang kuno ketinggalan zaman, bahkan dianggap musyrik dan syirik begitu saja, tanpa ditanya, tanpa dinalar, dalam koridor agama Islam di Indonesia, hal ini terutama banyak keluar dari mulut penganut Islam kelas menengah, menengah dalam pengetahuan, menengah secara ekonomi, dan menengah saja secara kemauan untuk belajar dan menganalisa lebih jauh, tapi rajin sekali menilai orang lain dan gemar dianggap utama hingga digelari alim, apalagi bila masuk tv dan menjadi da’i idola, tidak apa sebenarnya sejauh tidak lalu menganggap golongan lain lebih bodoh kalau tidak menjadi fan’s nya

Yang lucu adalah, kelas menengah tadi, setidaknya yang saya kenal, mengirimkan kepada saya anjuran untuk melakukan hal – hal yang nampaknya sangat baik dan mulia, tetapi sama saja ketidak jelasan dasarnya, bahkan sepertinya lebih buruk akibatnya, karena kelas menengah ini lebih luas dan lebih cepat langkah penyebarannya, dan yang paling seru dari itu semua adalah fakta: kebanyakan penduduk dikelas ini ogah di salahkan atau menerima kebenaran dari sesuatu yang tidak di idolakannya.

kongkretnya adalah sejak malam hingga pagi tadi, saya melihat banyak sekali masjid yang menganjurkan di corong pengeras suaranya, doa – doa yang katanya mesti dibaca menjelang masa pergantian Tahun dan sesaat setelah masa itu, lalu diinformasikan, bahwa hal itu seolah diajarkan dan di sunnahkan oleh Rasulullah Muhammad saw, nah, bukankah penetapan dan mulai digunakannya kalender Hijriyah itu adalah di masa  khalifah Umar bin Khattab ra. 6 Tahun setelah wafatnya Rasulullah Muhammad saw.? Secara sederhana, mana mungkin itu di ajarakan apalagi dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad Saw?

Lalu anjuran Puasa juga banyak bertebaran dimana – mana, lengkap dengan dasar anjuran dan hadist yang menguatkan, Dalil yang digunakan adalah berikut ini.

مَنْ صَامَ آخِرَ يَوْمٍ مِنْ ذِي الحِجَّةِ ، وَأَوَّلِ يَوْمٍ مِنَ المُحَرَّمِ فَقَدْ خَتَمَ السَّنَةَ المَاضِيَةَ بِصَوْمٍ ، وَافْتَتَحَ السَّنَةُ المُسْتَقْبِلَةُ بِصَوْمٍ ، جَعَلَ اللهُ لَهُ كَفَارَةٌ خَمْسِيْنَ سَنَةً

Barang siapa yang berpuasa sehari pada akhir dari bulan Dzuhijjah dan puasa sehari pada awal dari bulan Muharrom, maka ia sungguh-sungguh telah menutup tahun yang lalu dengan puasa dan membuka tahun yang akan datang dengan puasa. Dan Allah ta’ala menjadikan kaffarot/tertutup dosanya selama 50 tahun.” Hadits ini disebutkan oleh Asy Syaukani dalam Al Fawa-id Al Majmu’ah (96) dan Ibnul Jauzi menyebutkannya dalam Al Mawdhu’at (2: 566).

Sedangkan, Adz Dzahabi dalam Tartib Al Mawdhu’at (181)  mengatakan bahwa Al Juwaibari dan gurunya –Wahb bin Wahb- yang meriwayatkan hadits ini termasuk pemalsu hadits.

Asy Syaukani dalam Al Fawa-id Al Majmu’ah (96) mengatan bahwa ada dua perowi yang pendusta yang meriwayatkan hadits ini.

Ibnul Jauzi dalam Al Mawdhu’at (2: 566) mengatakan bahwa Al Juwaibari dan Wahb yang meriwayatkan hadits ini adalah seorang pendusta dan pemalsu hadits

Kesimpulannya, hadits yang menceritakan keutamaan puasa awal dan akhir tahun adalah hadits yang lemah yang tidak bisa dijadikan dalil dalam amalan. Sehingga tidak perlu mengkhususkan puasa pada awal dan akhir tahun karena haditsnya jelas-jelas lemah.

Dr. Salman bin Fahd Al ‘Audah (pimpinan umum web islamtoday.net) mendapat pertanyaan, “Ada saudara kami yang biasa berpuasa di awa dan akhir tahun hijriyah. Ia mengklaim bahwa ajaran tersebut termasuk sunnah. Bagaimana hukum puasa ini? Jazakallah khoirol jaza’.”

Jawaban:

Alhamdulillah, shalawat dan salam kepada Rasulullah, wa ba’du:

Perlu diketahui bahwa mengkhususkan suatu hari, waktu, atau tempat dengan shalat atau ibadah lainnya adalah menjadi keputusan syari’at. Tidak boleh bagi seorang pun menentukan hal ini dengan semaunya. Puasa di awal dan akhir tahun hijriyah, bukanlah suatu amalan yang diperintahkan dan tidak memiliki dasar sama sekali. Tidak ada satu pun hadits shahih dan selainnya yang menganjurkan puasa tersebut. Oleh karena itu, puasa seperti itu tidaklah diperintahkan. Hendaknya saudari tersebut berpuasa tiga hari setiap bulannya jika ia mau. Atau ia bisa pula berpuasa ‘Asyura (10 Muharram) dan satu hari sebelumnya. Ia pun bisa melakukan puasa Arofah (9 Dzulhijjah) jika ia tidak punya hajat. Semoga Allah menerima amalan kita dan engkau. (Sumber: islamtoday.net)

Berpuasa atau ibadah apapun lainnya, tentu baik, dengan niatan yang baik, akan tetapi kebiasaan berbid’ah, atau bahkan memberikan dan menyebarluaskan suatu bentuk hukum atau penganjuran untuk melakukan bentuk peribadatan kepada khalayak luas, tanpa mengetahui dengan baik dasar – dasar hukum atau riwayatnya secara jelas dan shahih  akan sangat baik untuk dihentikan, sebaik apapun bahasa dan suratan makna yang dibuat ada di dalamnya, karena itu akan menyesatkan banyak orang, lalu menjadi kebiasaan dan akhirnya sangat mungkin menumbuhkan generasi sok tahu dan mudah menghakimi orang lain tanpa peduli apapun lagi, tidak toleran, suka mengada – ada, dan malas untuk belajar lebih jauh tentang informasi keagamaan yang diterimanya, lalu semakin jauh dari tali informasi ajaran dan penalaran sebenarnya yang benar disampaikan oleh Rasulullah Muhammad saw, bukankah sudah cukup banyak hal itu terlihat di Indonesia, bahkan disekitar kita?

Semoga Tahun baru ini menjadi menjadi Tahun dimana, terutama di Indonesia, umat Islam menjadi lebih toleran, lebih banyak kemauan untuk belajar, lebih mau membuka hati dan pikiran, dan lebih bisa menghilangkan kebiasaan untuk bertikai karena perbedaan internal dan external,

Semoga Berkat Allah swt, semakin berlimpah ruah kepada seluruh Rakyat Indonesia, seluruhnya, karena Pastinya Allah swt menyayangi seluruh mahlukNya, tanpa peduli SARA, karena Allah swt. pastilah tidak Rasis!

Selamat Tahun Baru 1433 H

Wicaksono J, 27 11 2011 1 Muharram 1433 H

sumber : http://islamtoday.net/ ;  http://rumaysho.com  dan sumber lain

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s